Di Indonesia Tidak Pernah Ketemu, Malah Ketemu di Turki

Bagikan Tulisan ini
Email this to someone
email
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Print this page
Print

Oleh: Hafshah Mar’atu Shaliha

AISZAKI.comAlhamdulillah ala kulli haal, Hafshah bisa nulis lagi. Kali ini Hafshah mau cerita tentang ‘Sabtu peluh tanpa kelabu’ (2/11/19). Seperti biasa setiap jum’at malam dua hoca datang ke apartemen kami, juga Teh Annis dan Fafa. Tapi minggu ini sepertinya Fafa tidak ikut, ada masalah dalam hidupnya. Malam itu sebelum tidur aku mendengar sedikit percakapan teteh dengan Fayadh, yang intinya adalah bertemu dengan penulis untuk wawancara. Wow!! Siapakah gerangan dia?

Berbicang santai dengan Kang Abik

Yuuk kepoin sekolah pembibit wirausaha dan penghafal Al-Qur’an

Aku langsung semangat dong, aku bertanya padanya “Yadh, mau ketemu penulis? Siapa penulisnya?” tanyaku. Lalu ia menjawab “Habiburrahman El Shirazy“. Terbayang bagaimana isi hatiku? Apa yang ada di kepalaku? Bagaimana ekspresi wajahku? Penulis favoritku, pernah datang ke sekolahku, tapi aku hanya melihat dari jauh.

Berfoto bersama dengan teman-teman dan Kang Abik

Besok, Fayadh temanku akan ketemu dan mewawancarai beliau. Aku mau ikut, batinku. “Yadh aku mau ikut, aku dibelakang kamu juga gapapa deh” . Kata-kata itu sampai besok pagi, berkali-kali setiap aku ingat ia akan menemui Kang Abik, aku ucapkan terus menerus. Ya Allah betapa aku juga ingin bertemu ‘Kang Abik’ secara langsung.

Milad Yayasan Sekolah Wirausaha Indonesia yang ke-9

Esok harinya, sebagaimana aku ceritakan diawal, aku terus menerus bericara ‘aku ingin ikut’, sampai akhirnya Fayadh menghubungi teman yang akan mengajaknya wawancara. Apa kata temannya? Boleh. Aku boleh ikut!! Yeaay Alhamdulillah ya Allah, engkau selalu mengabulkan, bahkan sebelum aku ucapkan. Aku jadi teringat perkataan nabi Zakaria di surah Maryam ayat 4, ‘ولم اكن بدعآء ربّ شقيّا’ yang artinya ‘dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadamu ya tuhanku’.

Singkat cerita, kami bertemu pak Habiburrahman atau biasa disapa Kang Abik di İstanbul bilim ve kültür vakfı. Kami menunggu beliau beberapa waktu untuk kemudian berjalan bersama ke sebuah kafe untuk wawancara.

Kesan pertama yang aku dapat dari beliau saat bertemu langsung adalah beliau seorang yang sangat tawadhu dan tenang, cahaya yang terpancar dari wajahnya khas orang beriman. Beliau memaklumi ketidaksesuaian ‘kode etik mewawancarai seorang yang dikenal satu bangsa’ yang kami tampilkan. Berkeliling mencari kafe yang tenang misalnya. Sebagai anak muda, yang minim pengalaman mohon maklumkan🙏

Yayasan SWI Menggelar Kegiatan Jumat Berkah dengan Basi Box

Sesampainya di kafe, kami berbincang ringan, bahkan beliau yang mencairkan suasana, menampilkan sosok orang biasa sehingga kami tak perlu sungkan untuk berbicara. Jangan tanyakan kepadaku mengenai ilmu yang ku dapat dari kurang lebih 30 menit berbicara dengan beliau. Nasihat lama itu benar sekali ‘Kita takkan merugi duduk bersama orang berilmu’ yang bahkan ketika bergurau pun memberikan pelajaran yang tak banyak orang pikirkan.

Baca juga: Apa yang membuat para orang tua memilih sekolah?