Catatan Hafshah dari Turki (1)

Bagikan Tulisan ini
Email this to someone
email
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Print this page
Print

Oleh: Hafshah Mar’atu Shaliha

AISZAKI.com – Alhamdulillah ala kulli haal Hafshah bisa sampai kesini (baca: Turki). Saya saat ini merasakan pengalaman yang barangkali hanya dirasakan oleh sekian ratus dari sekian juta penduduk indonesia. Yap kuliah diluar negeri.

Tömer? Alhamdulillah bisa diterima dengan sangat baik oleh hati dan pikiran. Semua ternyata lebih mudah dari yang selama ini aku bayangkan dan lebih indah dari yang diharapkan. Lebih dari ekspektasi saya.

Apa yang membuat para orang tua dalam memilih sekolah?

Hari ini Jumat (4/10/19) memasuki minggu kedua belajar bahasa Turki, aku dapat pujian dari hoca (hoja: guru). Kalau diakumulasikan ini yang ketiga dari dua hoca yang mengajar di kelasku. Katanya “hafshah çalışmak” (hafshah rajin). Alhamdulillah aku seneng, ternyata masih ada yang ngeh kalo aku anak rajin.

Hari ini hoca juga mengadakan game, yang aku banyak menjawab pertanyaannya, apa respon hoca? “You should end the game, you’re winner” (intinya kamu gausah ikutan lagi, kamu udah menang).

Karena aku banyak menjawab teka-teki yang diberikan hoca, aku menjadi murid pertama yang berdiri di depan untuk memberi teka-teki selanjutnya. Aku bahagia pastinya, terlepas dari belajar tekun di negri orang, dikenal baik oleh guru menjadi kesan tersendiri.

Memberikan pendidikan sejarah melalui nobar film penghianatan PKI

Hari ini juga, aku tersadar kalau hubungan jarak jauh memang tak mudah. Ketika kita sempat menelpon, orang tua yang jauh disana sedang tak bisa dihubungi, begitu pula sebaliknya. Butuh niat dan waktu khusus bahkan hanya untuk menelpon. Tapi tak mengapa, abi dan ummi tak perlu khawatir, anakmu sedang baik baik saja disini karena aku tahu persis tak ada kerbau yang keberatan tanduk, sebagaimana tak ada masalah yang terlalu berat.

Kejadian ditahun ini hanya reinkarnasi dari 6 tahun lalu bukan? Masih ingatkah kalian? Saat itu 2013, memasukkanku ke pondok juga berat bukan? Terlepas mengikhlaskan untuk dididik, kita juga memikirkan finansial bukan? Masih ingatkah kalian ketika aku mengeluh “abi, umi, pelajarannya pakai bahasa arab (?)”

Membentuk karakter siswa melalui upacara bendera

Nyatanya di tahun 2019, bahkan aku menjadi salah satu dari 4 lulusan terbaik. Maka aku percaya, tahun ini dan selanjutnya pun aku bisa menjalaninya dengan baik, karna aku ditahun ini, menjalani kehidupan dengan lebih berani, lebih memiliki persiapan, lebih memiliki mental dari 6 tahun lalu.

Aku memohon doa restu dari kalian, agar apa yang aku lakukan selalu mendapat ridha-NYA. Juga untuk kemudahan dalam melewati banyak lembaran lembaran kehidupan yang terkadang membingungkan. Semoga beberapa kata ini dapat mewakili kata yang tak sempat tersampaikan oleh lisan.

Baca juga: Yuuk kepoin sekolah penghafal Al-Qur’an dan pembibit wirausaha sejak usia dini